I love you is in my head, but I imprison it behind my lips. I do not divulge. I say silently to who is no longer or is not yet the other: I keep myself from loving you __ a lovers discourse, Roland Barthes.

Novel ini, a lovers discourse, sudah sangat lama ingin saya miliki. Namun belum sekalipun punya kesempatan untuk bertemu ditoko buku dalam negeri. Saya pikir hanya beberapa karya Barthes yang ada di rak-rak toko buku indonesia, namun kebanyakan adalah tulisaan risalah atas pemikirannya. Saya sudah memiliki buku-buku lain seperti element of semiology, camera lucida, sarasin, mitologi dan beberapa judul lainya namun buku yang satu ini sangat saya idam-idamkan untuk dimilik karena dari review yang saya baca secara on line, tema besar novel ini adalah (diskursus) mengenai cinta. hanya pada seorang saya menceriterakan tentang obsesi saya untuk memliki buku ini dan membacanya beratus2 kali walau sama sekali tidak ada satupun yang masuk dalam pemahaman saya (seperti buku Barthes yang lainnya :P). entah bagaimana caranya, tiba-tiba saja paket yang saya terima dengan alamat pengirim dari perancis membuat hati saya girang bukan kepalang. terima kasih rasanya tak cukup untuk kalian ...
a lovers discourse; fragments, sebuah roman picisan tentang cinta dalam 'an extreme solitude' kata yang nulis. Dengan gaya penggalan penggalan 'lovers' yang pernah ada di jagat ini. saya pernah membuat sebuah seri foto berjudul 'wie herzliche blau der Himmel ist' ( diterbitkan di Drexterr Magazine, 2008) - betapa birunya langit (- hari ini; Jerman) dan alangkah terkejutnya saya ketika membaca salah satu fragment dari lovers discourse dengan judul yang sama (dalam bahasa inggris tentunya, halaman 197 - diterjemahkan dalam bahasa inggris ditulis dalam bahasa perancis). seri foto itu adalah sebuah seri foto personal yang ditujukan untuk seorang perempuan muda yang memikat hati saya. kalau kata Pram, indahnya masa muda ! (Pram - Jalan Raya Pos). perempuan ini lah yang menurut tebakan saya berceritera tentang keinginan saya memiliki buku ini pada sepasang suami isteri yang kebetulan berada di Paris. saya hanya berceritera pada satu orang saja, padanya. Sebuah kebetulan atau bukan, saya sendiri tidak paham. yang pasti, saya sangat senang mendapat hadiah yang berharga dalam hidup saya. hadiah yang barthes banget!
Barthes banget !!
kalimat ini diucapkan oleh seorang sahabat ketika mengikuti 'dialog foto' karya Don Hasman dan Filomena Reiss yang bertajuk Santiago de Compostela di kampus Sanata Dharma beberapa hari lalu. Barthes banget sih nanyanya! reaksi sang sahabat ketika salah seorang peserta bertanya pada Don Hasman dengan menceriterakan pengalamanya 'menemukan' aura foto dari karya Pak Don yang dipamerkan. Bagaimana tanggapan si empunya acara, well Don Hasman secara rendah hati mengatakan bahwa beliau tidak tahu apa apa soal aura dari karyanya yang dipamerkan, yang beliau sharing melalui karyanya hanya gambar dua dimensi soal catatan perjalanannya menyelusuri jalur Santo Yakobus dalam penyebaran Kristen ke daerah Spanyol. Mungkin sahabat saya ini merasa bosan dengan apresiasi foto semacam itu, hal yang bertahun-tahun dipelajarinya bahkan diperdalam di program magister ilmu religi dan budaya dimana salah satu dosenya adalah orang yang 'barthes banget' - st. Sunardi. yah beiau adalah penulis semiotika negativa. Saya sendiri hanya tertawa kecil sambil berbisik - the author is dead, darling. namanya juga interpretasi visual jadi maklum saja kalo Barthes banget! sahabat saya ini kemudian menimpali, iya tau kalo interpretasi subyektif. tapi ga perlu bawa bawa barthes, foto katedral yah katedral dan harus katedral ga perlu embel-embel omong kosong lainya. yah apa mau dikata, sejak dijadikan metode kajian visual, untuk menelaah budaya massa, ramai ramai orang kebablasan, parahnya atas nama intelektualitas. biar dibilang barthes banget!

jaman sekarang ini, sulit sekali ditemukan orang yangmau berbagi ilmu, khusunya dalam dunia fotografi. hanya segelintir orang yang bersedia dengan rendah hati membagi pengetauanya, berdiskusi atau dengankapasitasnya mengoreksi. untuk yang terakhir ini, lebih sulit lagi berhubung tidak sedikit pula orang yang dengan rendah hati mau dikoreksi dan didebat.
soal persiapan yang matang tentang rute yang ditempuh bisa dilihat dari muatan informasi disetiap gambarnya. seperi biasanya, foto-foto beliau menurut saya (ini menurut saya loh) justru jadi luar biasa bukan karena citra/gambar yang terekam tapi lebih ke informasi yang ada disetiap gambarnya. saya sampai bertanya tanya dalam hati 'bagaimana orang ini bisa tau hal seperti ini secara mendetail? ketika beliau menjelaskan salah satu karya yang dipamerkan - finishter city, kota di ujung benua. lalu, beliau menjelaskan bahwa ada 3 tempat dengan nama yang sama, di 3 negara yang berbeda. namun yang paling benar, lanjutnya, dalam catatan sejarah adalah finishter city yang ada di portugal. sebuah kota yang diklaim berada di ujung dunia. masa dimana bumi dipandang sebagai lembaran datar daratan. baru saya ketahui pada sesi diskusi yang 'barthes banget' bahwa 12 tahun persiapan dan 16 buku berbahasa inggeris, spanyol, perancis, memperkaya informasi fotonya - yang mungkin oleh salah satu peserta diskusi dinamai aura - atau satori menurut barthes yang nggak barthes banget.


Old Market, Cambodia 2009
Beberapa bulan yang lalu saya dikirimkan sebuah hadiah yang sangat mengejutkan, oleh dua sebab. Pertama sang pengirim, sepasang suami isteri yang saya kagumi. dan lebih lagi kedua, hadiah yang mereka kirimkan, jauh dari negeri tempat pernah hidup orang-orang besar seperti Naopelon, Bresson dan Barthes. nama yang terakhir ini ada kaitannya dengan hadiah yang saya terima, sebuah buku karya Roland Barthes, sebuah novel berjudul 'A Lovers Discourse'. Tidak perlu saya katakan betapa saya menyukai Barthes, bahkan blog ini bernama the author is dead. barthes banget! (sebagian mengira ini diadopsi dari eksistensialist Friedrich Nietzsche dengan - sayangnya hanya dimengerti lewat sepenggal kalimatnya - God is dead).Novel ini, a lovers discourse, sudah sangat lama ingin saya miliki. Namun belum sekalipun punya kesempatan untuk bertemu ditoko buku dalam negeri. Saya pikir hanya beberapa karya Barthes yang ada di rak-rak toko buku indonesia, namun kebanyakan adalah tulisaan risalah atas pemikirannya. Saya sudah memiliki buku-buku lain seperti element of semiology, camera lucida, sarasin, mitologi dan beberapa judul lainya namun buku yang satu ini sangat saya idam-idamkan untuk dimilik karena dari review yang saya baca secara on line, tema besar novel ini adalah (diskursus) mengenai cinta. hanya pada seorang saya menceriterakan tentang obsesi saya untuk memliki buku ini dan membacanya beratus2 kali walau sama sekali tidak ada satupun yang masuk dalam pemahaman saya (seperti buku Barthes yang lainnya :P). entah bagaimana caranya, tiba-tiba saja paket yang saya terima dengan alamat pengirim dari perancis membuat hati saya girang bukan kepalang. terima kasih rasanya tak cukup untuk kalian ...
a lovers discourse; fragments, sebuah roman picisan tentang cinta dalam 'an extreme solitude' kata yang nulis. Dengan gaya penggalan penggalan 'lovers' yang pernah ada di jagat ini. saya pernah membuat sebuah seri foto berjudul 'wie herzliche blau der Himmel ist' ( diterbitkan di Drexterr Magazine, 2008) - betapa birunya langit (- hari ini; Jerman) dan alangkah terkejutnya saya ketika membaca salah satu fragment dari lovers discourse dengan judul yang sama (dalam bahasa inggris tentunya, halaman 197 - diterjemahkan dalam bahasa inggris ditulis dalam bahasa perancis). seri foto itu adalah sebuah seri foto personal yang ditujukan untuk seorang perempuan muda yang memikat hati saya. kalau kata Pram, indahnya masa muda ! (Pram - Jalan Raya Pos). perempuan ini lah yang menurut tebakan saya berceritera tentang keinginan saya memiliki buku ini pada sepasang suami isteri yang kebetulan berada di Paris. saya hanya berceritera pada satu orang saja, padanya. Sebuah kebetulan atau bukan, saya sendiri tidak paham. yang pasti, saya sangat senang mendapat hadiah yang berharga dalam hidup saya. hadiah yang barthes banget!
Barthes banget !!
kalimat ini diucapkan oleh seorang sahabat ketika mengikuti 'dialog foto' karya Don Hasman dan Filomena Reiss yang bertajuk Santiago de Compostela di kampus Sanata Dharma beberapa hari lalu. Barthes banget sih nanyanya! reaksi sang sahabat ketika salah seorang peserta bertanya pada Don Hasman dengan menceriterakan pengalamanya 'menemukan' aura foto dari karya Pak Don yang dipamerkan. Bagaimana tanggapan si empunya acara, well Don Hasman secara rendah hati mengatakan bahwa beliau tidak tahu apa apa soal aura dari karyanya yang dipamerkan, yang beliau sharing melalui karyanya hanya gambar dua dimensi soal catatan perjalanannya menyelusuri jalur Santo Yakobus dalam penyebaran Kristen ke daerah Spanyol. Mungkin sahabat saya ini merasa bosan dengan apresiasi foto semacam itu, hal yang bertahun-tahun dipelajarinya bahkan diperdalam di program magister ilmu religi dan budaya dimana salah satu dosenya adalah orang yang 'barthes banget' - st. Sunardi. yah beiau adalah penulis semiotika negativa. Saya sendiri hanya tertawa kecil sambil berbisik - the author is dead, darling. namanya juga interpretasi visual jadi maklum saja kalo Barthes banget! sahabat saya ini kemudian menimpali, iya tau kalo interpretasi subyektif. tapi ga perlu bawa bawa barthes, foto katedral yah katedral dan harus katedral ga perlu embel-embel omong kosong lainya. yah apa mau dikata, sejak dijadikan metode kajian visual, untuk menelaah budaya massa, ramai ramai orang kebablasan, parahnya atas nama intelektualitas. biar dibilang barthes banget!

Gereja Ganjuran, Bantul 2009
Saya sendiri tidak terlalu ambil pusing dengan 'aura' atau omong kosong lainya, yang membuat saya tercengang adalah karya-karya yang dipamerkan jauh berbeda dengan karya karya Don Hasman sebelumnya. Beliau terkenal dengan etnofotografi, yang bahkan beliau disejajarkan dengan nama Sebastiao Salgado. namun kali ini, saya sempat bertanya pada beliau 'Pak Don koq motret travel?' saya paham Don Hasman adalah seorang traveler, namun untuk status fotografer, beliau adalah master etnografi visual. Jawaban beliau, yang entah kenapa membuat saya sadar mengapa orang ini sangat luar biasa. Misi dari perjalananya adalah sharing dan ambisi pribadi sebagai orang pertama yang mendokumentasikan rute ini. 12 tahun dipersiapkan, 16 buku dibaca dan latihan fisik serta yang paling penting 'berkontribusi' dan berbagi kisah. satu hal yang saat ini jarang sekali didapatkan dari kebanyakan orang, berbagi ilmu.jaman sekarang ini, sulit sekali ditemukan orang yangmau berbagi ilmu, khusunya dalam dunia fotografi. hanya segelintir orang yang bersedia dengan rendah hati membagi pengetauanya, berdiskusi atau dengankapasitasnya mengoreksi. untuk yang terakhir ini, lebih sulit lagi berhubung tidak sedikit pula orang yang dengan rendah hati mau dikoreksi dan didebat.
soal persiapan yang matang tentang rute yang ditempuh bisa dilihat dari muatan informasi disetiap gambarnya. seperi biasanya, foto-foto beliau menurut saya (ini menurut saya loh) justru jadi luar biasa bukan karena citra/gambar yang terekam tapi lebih ke informasi yang ada disetiap gambarnya. saya sampai bertanya tanya dalam hati 'bagaimana orang ini bisa tau hal seperti ini secara mendetail? ketika beliau menjelaskan salah satu karya yang dipamerkan - finishter city, kota di ujung benua. lalu, beliau menjelaskan bahwa ada 3 tempat dengan nama yang sama, di 3 negara yang berbeda. namun yang paling benar, lanjutnya, dalam catatan sejarah adalah finishter city yang ada di portugal. sebuah kota yang diklaim berada di ujung dunia. masa dimana bumi dipandang sebagai lembaran datar daratan. baru saya ketahui pada sesi diskusi yang 'barthes banget' bahwa 12 tahun persiapan dan 16 buku berbahasa inggeris, spanyol, perancis, memperkaya informasi fotonya - yang mungkin oleh salah satu peserta diskusi dinamai aura - atau satori menurut barthes yang nggak barthes banget.

Gereja Ganjuran, Bantul 2009
Sharing oleh Don Hasman dan Filomena Reiss ingin mengajak kita menghargai hidup, sebuah perjalanan yang berharga. perjalan mereka, oleh Filomena Reiss, dikatakan sebagai perjalan melihat hidup. bagaimana mereka meninggalkan segalanya dan berjalan seperti orang gila hanya untuk mencapai Katedral Santiago de Compostela. betemu manusia lainnya yang melakukan kegiatan yang sama dan menemukan kisah kisah yang susah untuk dinalar oleh orang (yang katanya) moderen. seperti bagaimana Don Hasman yang lelah dan hendak berbaring namun tidak membawa penyangga kepala/bantal samun disaat bersamaan ditengah ladang yang jauh dari perumahan angin membawa sebuah bantal tiup warna biru. kisah kisah lainya yang menurut saya pribadi lebih penting ketimbang rekaman visualnya. seperti misalnya dengan siapa pergi ke satu lokasi, bertemu siapa, kisah lucu atau apa saja yang dialami. saya selalu beranggapan yang terpenting adalah apa yang tidak direkam ketimbang apa yang direkam, lagi lagi ini terdengar barthes banget. bukankah kisah dibalik selembar foto sang ibunda yang kemudian menjadi reflection on photography. cerita Don Hasman dan Filomena Reiss saat 'ziarah' ke santiago membuat saya teringat kisah yang pernah saya tuliskan di blog ini, di belakang sebuah gereja di Ganjuran (http://theauthorisdead.blogspot.com/2009/08/filioque.html). untuk pertama kalinya hampir 12 tahun saya kembali mengucapkan 'credo in spiritum sanctum qui ex patre filioque procedit' ... kata sahadat yang memisahkan katolik orthodox dan roma, yang diajarkan oleh seorang pastur seminari berkebangsaan jerman yang menjerumuskan saya untuk hidup dalam kisah cinta yang barthes banget!



