Back2Blue

"'hari ini aku sendirian dan memutuskan pergi ke Senggigi. Dalam kesendirianku aku disapa pasir-pasir di pantai Senggigi. Butirannya sebesar merica, berbisik padaku menanyakan keberadaan mu :) Aku bilang: jangankan kamu jauh disini, aku yang dekat sepulau aja ga tau dia dimana. Tapi aku yakin dia akan baik-baik saja. Baik-baik dengan kekasih sejatinya, kesendirianya'

Back to Blue*


Pada suatu ketika ... hmmm bukankah ini agak membosankan memulai sebuah cerita dengan kalimat 'pada suatu ketika, dijaman dulu kala dll ... sejujurnya membosankan. saya akan meneruskan bagaimanapun juga ... ehem, pada suatu ketika seorang pemuda duduk sendiri memandang lautan. sorot matanya menyiratkan isi kepalanya yang bergemuruh laksana ombak yang disaksikanya. tanganya terkulai lemas, jemarinya terbenam kedalam pasir pantai selatan yang butiranya sebesar merica ... tidak ada pemandangan paling menyedihkan di dunia ini kecuali, seorang pria duduk sendiri, memandang kosong ke arah lautan dan melupakan kalau dia bertelanjang dada... angin pantai sangat kejam, apalagi di saat senja... si pemuda masih terus duduk, namun kali ini dia memilih sebongkah batu besar tak jauh dari situ sebagai alas duduk. bersila dan memejamkan matanya ... aku butuh bimbinganmu __ bisiknya. Seorang perempuan dengan segenap keanggunannya menghampiri, menawarkan bantuan dan menawarkan dirinya, sepenuhnya.

Siapa sangka kisah ini adalah kisah yang akan terus menerus dikisahkan dari generasi ke generasi. Parang Kusuma - adalah titik awal dimana kisah keagungan sebuah kerajaan yang hingga kini masih berdiri - dimulai. Kerajaan Mataram, atau yang kini kita kenal sebagai Ngayogyokarto Hardiningrat - Jogja yang istimewa.


Photobucket

Photobucket


Agustus 2010, tanggal 6: seandainya tidak hujan

sore Itu langit jakarta seperti biasanya tidak pernah cerah, mendung lalu gerimis perlahan turun. dua gelas kopi tubruk sudah masuk melewati tenggorokan, namun belum juga mampu mengusir kantuk. AC ruangan memperburuk suasana, saya memutuskan untuk keluar sebentar dan merokok. gerimis mengintip di balik awan hitam, memperhatikan dengan mata sendunya. dalam, sangat dalam. dan hujanpun turun sejak saat itu. oh ya tentu saja hujan selalu sama dimanapun di sudut jakarta, tapi hujan yang satu ini... hujan yang lain dari biasanya. hujan kali ini adalah hujan yang membawa perasaan rindu pada rumah di tiap tetesnya. ada aroma mawar, rumput basah dan tentu saja kopi yang ada di meja. rumah ... seandainya tidak hujan, bayangan tentang rumah tidak akan pernah ada.

kembali ke dalam ruangan yang penuh omong kosong normatif tentang ini dan itu, dimana semua orang adalah orang yang membosankan termasuk saya. saya lebih membosankan dari biasanya, lebih dari semua yang hadir. dan jauh disana hujan membawa pesan ... you will be-coming home! ... dan aku sudah rindu Jogja sejak kereta itu meraung ...


Photobucket

Photobucket

Photobucket


Oktober 2010, tanggal 26: 'melarikan diri'

gerimis belum mau pergi, saya masih terjebak di jantung ibukota negeri Jiran, negeri para pelarian. melayu dalam bahasa Jawa. saya melihat flash news di layar televisi warung kopi 'merapi meletus'...

Beberapa ratus tahun yang lalu, Merapi memaksa ribuan warga Mataram untuk melakukan eksodus ke daerah Jawa Timur, untuk waktu yang singkat. Ibukota dipindahkan lengkap dengan harta bendanya. Saya teringat akan Veseveus yang menghapus Pompei dari sejarah, hati saya berbisik pada siapapun yang kuasa; jangan sampai Merapi melakukan hal yang sama kali ini, jangan pula Merapi menjelma menjadi Veseveus atau Krakatau. Terlalu banyak hal hal kecil yang 'istimewa' disana. terlalu banyak hal yang siapapun tidak berhak untuk merenggutnya dari warga Mataram, Yogyakarta yang istimewa. saya pun segera beranjak pulang ke jogja, dan seperti yang diberitakan letusan kali ini cukup mengerikan ... bahkan memakan korban yang cukup banyak, salah satunya adalah Mbah Maridjan, orang yang saya kenal sejak 2003 lalu. pergilah dengan damai Mbah ... suatu saat kita akan minum teh bersama lagi :)


Photobucket

Photobucket


yah bersama lagi adalah hal yang boleh jadi paling membosankan untuk diucapkan. Suatu saat kita bertemu lagi ... lebih banyak tidak terpenuhi ketimbang terjadi seperti yang diharapkan. Kecuali, beratus tahun sejak Sutawijaya duduk menghadap pantai selatan jawa, anak cucunya yang diberi gelar HB IX - bertemu dan duduk mungkin, untuk minum teh bersama dengan seorang pemuda yang, kebetulan atau tidak, suka melarikan diri ke pinggir pantai. melihat lautan. Pemuda yang merasa bagai 'elang yang dipotong sayapnya' yang dalam pelarianya merumuskan apa yang kita kenal sebagai Pancasila. Jogja juga pernah menjadi pusat dari sebuah negeri yang diperjuangkan oleh 'sang elang'. Bahkan atas jasanya, gelar Daerah Istimewa diberikan pada Jogja, setelah bergabung dengan NKRI, negeri yang diperjuangkan oleh 'sang elang' dengan orang-orang hebat lainya pada masa itu ...


Photobucket


Mungkin sebagian dari anda pernah mengunjungi Jogja, menikmati atmosfir keramahanya, merasakan gairah mistis di setiap gestur tubuh renta para abdinya, meneguk teh manis yang semanis penghuni pasar kembang. terbang ke dimensi lain dalam lantunan gending bermuatan puja puji pada yang kuasa. atau mungkin juga Jogja membawa kenangan buruk termanis yang sulit untuk dilupakan ... darah, amarah, benci, cinta, kasih, sepi, galau, gagal, asmara dan sebagainya ... kota ini dibangun atas ikatan suci anatara seorang pemuda dengan seorang perempuan lengkap dengan kerajaan halusnya. kota ini pernah mengalami pertarungan hebat dengan alam dan manusia. Diporakporandakan, dicerca, dihina dan diabaikan ... namun satu hal yang pasti, kota ini dibangun oleh manusia-manusia yang spesial ...


Photobucket


*Are you really want to leaving to Jogja this noon? coz you know what, my color is back to blue...